Sabtu, 19 November 2011

PERILAKU PROSOSIAL




Baron & Byrne (2003) menjelaskanperilaku prososial sebagai segala tindakan apa pun yang menguntungkan orang
lain. Secara umum, istilah ini diaplikasikan pada tindakan yang tidak
menyediakan keuntungan langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut, dan
bahkan mungkin mengandung derajat resiko tertentu. Dayakisni & Yuniardi
(2004) mendefinisikan perilaku prososial merupakan kesediaan orang-orang untuk
membantu atau menolong orang lain yang ada dalam kondisi distress (menderita)
atau mengalami kesulitan. Faturochman (2006) juga menyatakan perilaku prososial
sebagai perilaku yang memiliki konsekuensi positif pada orang lain.
Staub (Basti, 2007) mendefinisikan perilaku
prososial sebagai suatu perilaku yang memiliki konsekuensi sosial positif
secara fisik maupun secara psikologis, dilakukan secara sukarela dan
menguntungkan orang lain. Wrightsman dan Daux (Basti, 2007) mempertegas
pendapat ini dengan mengatakan bahwa perilaku prososial merupakan tindakan yang
mempunyai akibat sosial secara positif, yang ditujukan bagi kesejahteraan orang
lain baik secara fisik maupun secara psikologis, dan perilaku tersebut
merupakan perilaku yang lebih banyak memberikan keuntungan pada orang lain
daripada dirinya sendiri.
Sears, Freedman, dan Peplau (1985)
menjelaskan perilaku prososial meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan
atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa memperdulikan motif-motif si
penolong. Menurut Rushton (Sears, Freedman, dan Peplau, 1985) perilaku
prososial berkisar dari tindakan altruisme yang tidak mementingkan diri sendiri
atau tanpa pamrih sampai tindakan menolong yang sepenuhnya dimotivasi oleh
kepentingan diri sendiri.
William (Dayakisni & Hudaniah, 2006)
membatasi perilaku prososial sebagai perilaku yang memiliki intensi untuk
mengubah keadaan fisik atau psikologis penerima bantuan dari kurang baik
menjadi lebih baik, dalam arti secara material maupun psikologis. Dalam hal ini
dapat dikatakan bahwa perilaku prososial bertujuan untuk membantu meningkatkan well
being
orang lain. Dayakisni & Hudaniah, (2006) menyimpulkan perilaku
prososial adalah segala bentuk perilaku yang memberikan konsekuensi positif
bagi si penerima, baik dalam bentuk materi, fisik ataupun psikologis tetapi
tidak memiliki keuntungan yang jelas bagi pemiliknya. Bentuk yang paling jelas
dari prososial adalah perilaku menolong (Faturochman, 2006).
Brigham (Dayakisni & Hudaniah, 2006)
menyatakan bahwa perilaku prososial mempunyai maksud untuk menyokong
kesejahteraan orang lain, dengan demikian kedermawanan, persahabatan, kerjasama,
menolong, menyelamatkan, dan pengorbanan merupakan bentuk-bentuk perilaku
prososial. Menurut Staub (Dayakisni & Hudaniah, 2006) ada tiga indikator
yang menjadi tindakan prososial, yaitu:
a. Tindakan itu berakhir pada dirinya dan
tidak menuntut keuntungan pada pihak pelaku.
b. Tindakan itu dilahirkan secara sukarela.
c. Tindakan itu menghasilkan kebaikan.

Tahap-tahap dalam Perilaku Prososial
Ketika seseorang memberi pertolongan, maka
hal itu didahului oleh adanya proses psikologis hingga pada keputusan menolong.
Latane & Darley (Baron & Byrne, 2003; Faturochman, 2006) menemukan
bahwa respons individu dalam situasi darurat meliputi lima langkah penting,
yang dapat menimbulkan perilaku prososial atau tindakan berdiam diri saja.
Tahap-tahap yang telah teruji bebeapa kali dan sampai saat ini masih banyak
digunakan meliputi:
a. Menyadari adanya keadaan darurat, atau
tahap perhatian.
Untuk sampai
pada perhatian terkadang sering terganggu oleh adanya hal-hal lain seperti
kesibukan, ketergesaan, mendesaknya kepentingan lain dan sebagainya
(Faturochman, 2006).
b. Menginterpretasikan keadaan sebagai keadaan
darurat.
Bila
pemerhati menginterpretasi suatu kejadian sebagai sesuatu yang membuat orang
membutuhkan pertolongan, maka kemungkinan besar akan diinterpretasikan sebagai
korban yang perlu pertolongan.
c. Mengasumsikan bahwa adalah tanggung
jawabnya untuk menolong.
Ketika
individu memberi perhatian kepada beberapa kejadian eksternal dan
menginterpretasikannya sebagai suatu situasi darurat, perilaku prososial akan
dilakukan hanya jika orang tersebut mengambil tanggung jawab untuk menolong
(Baron & Byrne, 2003). Apabila tidak muncul asumsi ini, maka korban akan
dibiarkan saja, tanpa memberikan pertolongan (Faturochman, 2006). Baumeister
dkk. (Baron & Byrne, 2003) menemukan ketika tanggung jawab tidak jelas,
orang cenderung mengasumsikan bahwa siapa pun dengan peran pemimpin seharusnya
bertanggung jawab.
d. Mengetahui apa yang harus dilakukan.
Bahkan
individu yang sudah mengasumsikan adanya tanggung jawab, tidak ada hal berarti
yang dapat dilakukan kecuali orang tersebut tahu bagaimana ia dapat menolong.
e. Mengambil keputusan untuk menolong.
Meskipun
sudah sampai ke tahap dimana individu merasa bertanggung jawab memberi
pertolongan pada korban, masih ada kemungkinan ia memutuskan tidak memberi
pertolongan. Berbagai kekhawatiran bisa timbul yang menghambat terlaksananya
pemberian pertolongan (Faturochman, 2006). Pertolongan pada tahap akhir ini dapat
dihambat oleh rasa takut (sering kali merupakan rasa takut yang realistis)
terhadap adanya konsekuensi negatif yang potensial (Baron & Byrne, 2003).

Menurut Staub (Dayakisni & Hudaniah,
2006) terdapat beberapa faktor yang mendasari seseorang untuk bertindak
prososial, yaitu;
a. Self-gain: harapan seseorang untuk memperoleh atau menghindari
kehilangan sesuatu, misalnya ingin mendapatkan pengakuan, pujian atau takut
dikucilkan.
b. Personal values and norms: adanya nilai-nilai dan norma sosial yang
diinternalisasikan oleh individu selama mengalami sosialisasi dan sebagian
nilai-nilai serta norma tersebut berkaitan dengan tindakan prososial, seperti
berkewajiban menegakkan kebenaran dan keadilan serta adanya norma timbal balik.
c. Empathy: kemampuan seseorang untuk ikut merasakan perasaan atau
pengalaman orang lain.
Menurut Sears, Freedman & Peplau (1985)
menerangkan bahwa perilaku prososial dipengaruhi oleh karakteristik situasi,
karakteristik penolong, dan karakteristik orang yang membutuhkan pertolongan.
a. Situasi; meliputi kehadiran orang lain,
sifat lingkungan, fisik, dan tekanan keterbatasan waktu.
b. Penolong; meliputi karakteristik
kepribadian, suasana hati, distres diri dan rasa empatik.
c. Orang yang membutuhkan pertolongan;
meliputi adanya kecenderungan untuk menolong orang yang kita sukai, dan
menolong orang yang pantas ditolong.
Sedangkan menurut Faturochman (2006)
faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian pertolongan adalah:
a. Situasi sosial.
Adanya
korelasi negatif antara pemberian pertolongan dengan jumlah pemerhati, makin
banyak orang yang melihat suatu kejadian yang memerlukan pertolongan makin
kecil munculnya dorongan untuk menolong.
b. Biaya menolong.
Dengan
keputusan memberi pertolongan berarti akan ada cost tertentu yang harus
dikeluarkan untuk menolong. Pengeluaran untuk menolong bisa berupa materi
(biaya, barang), tetapi yang lebih sering adalah pengeluaran psikologis
(memberi perhatian, ikut sedih dan lainnya).
c. Karakteristik orang-orang yang terlibat.
Kesamaan
antara penolong dengan korban. Makin banyak kesamaan antara kedua belah pihak,
makin besar peluang untuk munculnya pemberian pertolongan. Ada kecenderungan
orang lebih senang memberi pertolongan pada orang yang disukai. Di samping
hubungan yang tidak langsung tersebut, ada kecenderungan bahwa orang lebih suka
memberi pertolongan pada orang yang memiliki daya tarik tinggi karena ada
tujuan tertentu di balik pemberian pertolongan tersebut.
d. Mediator internal.
Mood. Ada kecenderungan bahwa orang yang baru
melihat kesedihan lebih sedikit memberi bantuan daripada orang yang habis
melihat hal-hal yang menyenangkan. Penelitian yang dilakukan Myers
(Faturochman, 2006) menunjukkan adanya pengaruh mood terhadap perilaku
membantu. Hal itu sesuai dengan penjelasan Forgas maupun Isen & Baron
(Baron & Byrne, 2003), disebabkan adanya hubungan yang saling mempengaruhi
antara afek (suasana hati kita saat ini) dan kognisi (cara kita memproses,
menyimpan, mengingat, dan menggunakan informasi sosial).
Empati. Ada hubungan antara besarnya empati dengan
kecenderungan menolong. Hubungan antara empati dengan perilaku menolong secara
konsisten ditemukan pada semua kelompok umur.
Arousal. Ketika melihat suatu kejadian yang
membutuhkan pertolongan orang dihadapkan pada dilema menolong atau tidak
menolong. Salah satu pertimbangan yang menjadi pertimbangan untuk menolong atau
tidak menolong adalah biaya untuk menolong dibanding biaya tidak menolong.
Pertimbangan ini meliputi situasi saat terjadinya peristiwa, karakteristik
orang-orang yang ada di sekitar, karakteristik korban, dan kedekatan hubungan
antar korban dengan penolong.
e. Latar belakang kepribadian.
Individu yang
mempunyai orientasi sosial yang tinggi cenderung lebih mudah memberi
pertolongan, demikian juga orang yang memiliki tanggung jawab sosial tinggi.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar